Berhenti menjadi orang biasa...
Pada zaman dahulu ada pula seorang Ninja, ia adalah seorang
Ninja yang bodoh, dan suatu hari ia ingin menantang seseorang Ninja lain yang
jauh lebih pandai. Oleh orang-orang lain, ninja bodoh itu ditertawakan karena
ia dianggap pasti kalah, namun Ninja Bodoh itu menjawab, “Ada kalanya seseorang harus terus berjuang,
dan berani bertarung, walaupun ia tahu bahwa dirinya pasti kalah”.
Saya pernah punya seorang teman, sebut saja A, sebenarnya ia
tidaklah terlalu pintar, tidak pernah mendapat urutan 5 besar di kelas, namun
ia hampir selalu ikut dalam setiap perlombaan, tidak peduli bagaimanapun
hasilnya namun selama ia masih ada waktu, maka ia akan selalu ikut. Hal yang
berbeda dengan teman saya satunya lagi, sebut saja B, ia tergolong siswa yang
amat berprestasi, namun setiap ada lomba, ia lebih memilih mundur dengan
alasan, “Ah paling-paling yang menang nanti si X”,
Saya juga pernah mengikuti perlombaan di Surabaya, disana
kami tergolong peserta yang “Ndeso”, Yang dijamin akan kalah melawan peserta
lain, Terutama dari SMA Favorit se Jawa Timur, sebut saja, SMK Darul 'Ulum,
SMAN 5 & 6 Surabaya, Petra 1-3, dll. Namun satu hal yang saya tanamkan
dalam tim kami bahwa Kita akan meraih Juara. Sehingga setiap menghadapi
pengumuman peserta yang lolos ke babak berikutnya, kami pun belajar untuk
materi babak selanjutnya (padahal hasil belum diumumkan). Begitulah sehingga
kami yang merupakan tim underdog atau bahkan tim lapis ke 5 (dibawahnya
cadangan) mampu lolos ke Final, mendapatkan sepuluh besar, walaupun tidak juara
1. Ini lebih disebabkan ketidakmampuan kami dalam penguasaan materi.
Pada zaman kekhalifahan pernah ada seorang Panglima Perang
bernama Jabal Tariq, yang dengan jumlah pasukan cenderung minim, mendarat di
sebuah batu karang tepi pantai untuk membebaskan suatu daerah dari kekuasaan
seorang Penguasa Zhalim. Setibanya di Pantai, ia memerintahkan untuk membakar
semua kapal. Lalu ia berkata pada pasukannya, “Tidak ada lagi jalan ke
Belakang, Di Belakang adalah laut, dan di Depan adalah musuh, Jika kalian tetap
ingin hidup, tidak ada cara lain selain mengalahkan mereka”, maka pasukan itu
pun terus maju, dan akhirnya pasukan itu pun menang. Dan selat itupun sekarang
dinamai selat Jibraltar.
__________________________
Saudaraku seiman, adakalanya kita harus mau menjadi ninja
bodoh diatas, dengan semangat peserta Benteng Takeshi. Yang mana kita tahu
bahwa kita akan kalah namun kita harus tetap berusaha, berusaha untuk membalik
keadaan. Nillai sebuah keOptimisan adalah teramat besar. Apa yang kita pikir,
mampu mempengaruhi jalan hidup kita. Bila kita berpikir “Saya pasti Bisa”
seperti si A, Insya Allah kemenangan di depan mata, namun apabila kita berpikir
gagal, seperti si B, maka sekeras apapun kita dipaksa untuk menang, tetaplah
kegagalan di depan mata.
Kita pun juga harus bisa menghadapi kegagalan, namun
jadikanlah kegagalan yang kita dapat adalah sebuah kegagalan yang terencana
sebelumnya. Bukan kegagalan akibat tidak berusaha. Berusahalah untuk terus
melaju ke depan, walaupun harus dengan merangkak Dan setiap kita melangkah ke
depan, bakarlah semua jalan yang telah kita lalui sehingga tidak mungkin ada
kemungkinan bagi kita untuk mundur ke belakang. Majulah dengan riang dan
tersenyum karena esok adalah milik kita.
Teman saya pernah berkata bahwa bila kita terlalu optimis,
bila kalah, itu akan terlalu menyakitkan. Tapi tunggu dulu, Islam punya
solusinya, Ini bisa dicegah dengan menempatkan 99% optimis dan 1 % resiko
kegagalan terencana (bukan 1% pesimis), tetaplah optimis dalam 0,01 detik
terakhir usaha kita, dan selepasnya, marilah bertawakkal. Apapun yang terjadi, itulah
yang terbaik menurut Allah bagi kita. Terimalah apa pun hasilnya setelah kita
berusaha dan kita yakin kita Bisa.
Saudaraku, marilah kita bersama-sama mengundurkan
diri dari manusia biasa, dan mendaftarkan diri menjadi manusia luar biasa.






